Sebenarnya ini berita lama sudah, tapi kenapa yah ada yang janggal? masa iya TKI kita sampai bisa kekurangan makanan/malnutrisi dan akhirnya meninggal dengan komplikasi penyakit diare dan hepatitis di negara tetangga yg berkecukupan yaitu Malaysia. Masa iya mereka membiarkan hal ini terjadi, dimana letak kepedulian mereka dengan sesama saudara serumpun melayu. Atau mungkin ini adalah takdir yang memang sudah ditentukan OlehNya… Semoga Alm. Amir dimuliakan rohnya disisi Allah SWT. amin…
(Berita diambil dari liputan6.com.red)

Originally uploaded by razakmac
Liputan6.com, Nunukan: Kisah tragis tenaga kerja Indonesia ilegal seakan tiada habis. Amir, contohnya. Buruh jiran yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Nunukan, Kalimantan Timur, ini akhirnya meninggal dunia, Rabu (16/2) dini hari. Sejak pulang dari Sabah, Malaysia, Amir sudah menderita kekurangan gizi, diare, dan hepatitis.
Lebih memilukan lagi, jenazah Amir dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Pasir Putih, Nunukan, karena tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Kasus meninggalnya TKI di tempat penampungan, menurut pihak RSUD Nunukan, bukan kali ini saja terjadi.
Amir pulang dari Sabah enam hari silam. Lelaki berumur 18 tahun itu, sudah tiga tahun menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit Federal Land Development Agency (Felda), milik pemerintah Malaysia. Selama bekerja di sana, Amir tak mampu membeli makanan yang dijual di koperasi perusahaan karena harganya mahal. Sementara membeli makanan di luar dilarang. Padahal gajinya kecil dan banyak potongan.
Kondisi serba sulit itulah yang diduga menyebabkan kesehatan Amir terus melorot. Dia tidak sanggup menopang tubuhnya. Bahkan, buang air besar pun dilakukan di atas kasur. Diduga pula, Amir dipulangkan karena faktor kesehatannya itu [baca: Tubuh Amir Tinggal Tulang dan Kulit].
Nasib tragis juga dialami seorang tenaga kerja wanita tanpa identitas jelas yang menjadi korban tabrak lari. Menurut Kepolisian Malaysia, perempuan berumur 50 tahun ini tewas tertabrak mobil di kawasan Batu Tujuh, Sarawak, Malaysia, dua hari silam. Jenazah TKW nahas itu kemudian dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Umum Sarawak.
Wakil dari Konsulat Jenderal RI di Sarawak, kemudian berusaha mengidentifikasi jati diri korban guna menyampaikan kabar duka ini kepada pihak keluarga. Dari paspor yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Entikong, Kalimantan Barat, tertera nama Nong Lanyin dengan alamat di Dusun Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, Kalba. Setelah ditelusuri di alamat tersebut, ternyata tak ada orang yang bernama Nong Lanyin.
Kasus kematian TKI di Sarawak dengan alamat dan identitas kabur itu bukanlah yang pertama. Berdasarkan catatan Konjen RI di Sarawak, dalam tiga bulan terakhir, ada enam kasus serupa.(AIS/KEN/Tim Liputan 6 SCTV)